Setiap budaya memiliki kepercayaan unik yang diwariskan turun-temurun, dan Korea tidak terkecuali. Takhayul Korea mencerminkan sejarah, nilai, dan cara pandang masyarakat terhadap keberuntungan serta nasib. Meskipun banyak orang Korea modern tidak sepenuhnya mempercayai takhayul ini, kepercayaan tersebut tetap hidup dalam kebiasaan sehari-hari dan sering menjadi bahan percakapan menarik. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi beberapa takhayul Korea yang paling terkenal beserta makna di baliknya.
Takhayul Seputar Angka Empat
Salah satu takhayul paling terkenal di Korea adalah ketakutan terhadap angka empat. Fenomena ini disebut tetraphobia. Alasannya adalah karena kata untuk angka empat dalam bahasa Korea, yaitu sa, terdengar mirip dengan kata yang berarti kematian, yang juga dibaca sa dalam pengaruh karakter Tionghoa.
Karena kesamaan bunyi ini, angka empat sering dianggap membawa kesialan. Di banyak gedung di Korea, Anda mungkin menemukan lantai empat ditandai dengan huruf F alih-alih angka 4 pada tombol lift. Beberapa rumah sakit dan bangunan bahkan menghilangkan lantai empat sama sekali. Kepercayaan ini serupa dengan ketakutan terhadap angka tertentu di budaya lain, misalnya ketakutan terhadap angka tiga belas di banyak negara Barat.
Pengaruh takhayul ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang cenderung menghindari nomor kamar, nomor telepon, atau tanggal yang mengandung banyak angka empat, terutama untuk acara penting. Meskipun tidak semua orang benar-benar mempercayainya, banyak yang tetap menghindarinya sekadar untuk berjaga-jaga atau mengikuti kebiasaan yang sudah mengakar.
Kipas Angin Kematian
Salah satu takhayul Korea yang paling unik dan sering membuat orang asing terkejut adalah kepercayaan tentang kipas angin kematian atau fan death. Menurut takhayul ini, tidur di ruangan tertutup dengan kipas angin listrik yang menyala sepanjang malam dapat menyebabkan kematian. Alasan yang sering dikaitkan meliputi kekhawatiran akan kekurangan oksigen atau penurunan suhu tubuh.
Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung kepercayaan ini, takhayul kipas angin kematian pernah sangat luas dipercaya di Korea. Itulah sebabnya banyak kipas angin di Korea dilengkapi dengan pengatur waktu agar dapat mati secara otomatis. Saat ini, generasi muda semakin skeptis terhadap kepercayaan ini, tetapi kisahnya tetap menjadi bagian menarik dari budaya populer Korea.
Takhayul ini juga sering menjadi bahan perbincangan lucu ketika orang asing pertama kali mendengarnya. Bagi banyak orang di luar Korea, gagasan bahwa kipas angin biasa dapat berbahaya terdengar mengejutkan. Namun, fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah kepercayaan dapat menyebar luas dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, bahkan tanpa dasar ilmiah yang jelas.
Menulis Nama dengan Tinta Merah
Di Korea, menulis nama seseorang yang masih hidup dengan tinta merah dianggap membawa kesialan atau bahkan menandakan kematian. Kepercayaan ini berakar dari tradisi lama di mana nama orang yang telah meninggal dicatat dengan tinta merah pada dokumen keluarga atau batu nisan.
Karena asosiasi tersebut, menulis nama orang hidup dengan warna merah dianggap tidak sopan dan menakutkan. Jika Anda memiliki teman Korea, sebaiknya hindari menulis namanya dengan pena merah agar tidak menyinggung perasaan mereka. Ini adalah contoh bagaimana takhayul dapat memengaruhi etika sehari-hari.
Kepercayaan semacam ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara warna, simbol, dan makna dalam budaya Korea. Sesuatu yang tampak sepele bagi orang asing bisa memiliki arti mendalam bagi orang Korea. Karena itu, memahami takhayul seperti ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membantu Anda bersikap lebih peka dan menghormati perasaan orang lain saat berinteraksi.
Takhayul Lain yang Menarik
Selain tiga takhayul utama di atas, ada banyak kepercayaan lain yang menarik untuk diketahui:
- Bermimpi tentang babi: Bermimpi tentang babi dianggap sebagai pertanda keberuntungan, terutama keberuntungan finansial. Banyak orang Korea membeli tiket lotre setelah bermimpi tentang babi.
- Makan sup rumput laut sebelum ujian: Sup rumput laut atau miyeokguk sebaiknya dihindari sebelum ujian penting karena teksturnya yang licin diyakini dapat membuat seseorang gagal atau tergelincir dalam ujian.
- Memberi sepatu kepada kekasih: Memberikan sepatu kepada pasangan dipercaya dapat membuat pasangan tersebut pergi meninggalkan Anda, seolah berjalan menjauh dengan sepatu pemberian itu.
- Menggoyangkan kaki: Ada kepercayaan bahwa menggoyang-goyangkan kaki akan menggoyahkan atau menghilangkan keberuntungan dan kekayaan Anda.
Makna di Balik Takhayul
Takhayul Korea, seperti takhayul di budaya lain, sering kali berakar pada permainan kata, pengalaman sejarah, atau keinginan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak dipahami pada masa lampau. Banyak dari kepercayaan ini muncul dari kesamaan bunyi kata atau tradisi kuno yang berkaitan dengan kehidupan dan kematian.
Menariknya, banyak takhayul yang berhubungan dengan ujian dan keberuntungan. Selain menghindari sup rumput laut, ada juga kebiasaan memberi hadiah bermakna baik sebelum ujian besar, seperti permen atau kue lengket, dengan harapan agar jawaban menempel di kepala atau agar peserta ujian berhasil menempel di sekolah yang diinginkan. Kebiasaan ini menunjukkan bagaimana permainan kata sangat memengaruhi kepercayaan masyarakat Korea.
Meskipun sebagian besar orang Korea modern menganggap takhayul ini sebagai hiburan atau kebiasaan budaya belaka, memahaminya tetap penting untuk menghargai cara berpikir dan sejarah masyarakat Korea. Takhayul juga sering muncul dalam drama, film, dan percakapan sehari-hari, sehingga mengenalnya akan membantu Anda memahami konteks budaya dengan lebih baik.
Bagi pelajar bahasa Korea, mengenal takhayul juga bermanfaat karena banyak ungkapan dan idiom yang berakar dari kepercayaan ini. Ketika Anda memahami latar belakangnya, Anda akan lebih mudah menangkap makna sebenarnya dari percakapan sehari-hari maupun adegan dalam drama Korea. Pengetahuan seperti ini membuat proses belajar menjadi lebih hidup dan menyenangkan.
Jika Anda ingin memahami lebih dalam nuansa budaya dan bahasa Korea, termasuk ungkapan dan cerita di balik tradisi seperti ini, Anda dapat belajar bersama tutor Korea profesional di Kotudent.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa orang Korea menghindari angka empat?
Karena kata untuk angka empat terdengar mirip dengan kata yang berarti kematian, sehingga banyak gedung mengganti lantai empat dengan huruf F pada lift.
Apakah takhayul kipas angin kematian benar?
Tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya, tetapi kepercayaan ini pernah sangat populer di Korea, sehingga banyak kipas angin dilengkapi pengatur waktu otomatis.
Mengapa tidak boleh menulis nama dengan tinta merah di Korea?
Karena secara tradisional nama orang yang telah meninggal ditulis dengan tinta merah, sehingga menulis nama orang hidup dengan warna merah dianggap membawa kesialan.